Selasa, 15 Desember 2009
Review Kesadaran akan Rasa Salah
Berikutnya akan dibahas secara lebih mendalam mengenai faktor lingkungan dalam mendukung pemahaman dari rasa salah. Untuk lingkungan luar (selain individu yang dekat dengan pribadi) cara penyampaian bahwa kondisi individu adalah salah , akan menimbulkan beberapa reaksi. Untuk pribadi dengan rasa keterbukaan dapat menerima koreksi , tetapi tetap bergantung akan cara penyampaian , waktu penyampaian dan tingkat kedewasaan dari target individu tersebut. Pada individu dengan kepercayaan diri dan keyakinan yang tinggi, individu tersebut tidak akan merespon , dan menimbulkan kesan acuh tak acuh, karena individu tersebut yakin dengan nilai dan standar kebenaran pada kondisi saat itu. Nilai dari faktor lingkungan tersebut tidak mutlak benar maupun salah , dalam hal ini erat kaitannya dengan nilai norma dan pendidikan moral keluarga dari individu yang bersangkutan.
Lingkungan lainnya yang sangat penting adalah ketika keluarga menempatkan nilai moral dan aturan aturan dasar dalam pemikiran individu saat kecil (perkembangannya). Pada saat perkembangan individu keuarga berperan untuk menempatkan pola pikir, dan reaksi terhadap lingkungan. Lingkungan keluarga sangat besar peranannya dalam pembentukan reaksi individu terhadap lingkungan pada saat individu tersebut dewasa.
Karena manusia sebagai individu pembelajar, akan selalu menyempurnakan nilai kebenaran yang diterimanya saat kecil dan untuk melakukan penyesuaian pola pikir tersebut saat besar, akan membutuhkan effort yang besar dalam proses penyesuaian.
Kesadaran secara otomatis dari individu ditentukan oleh pendidikan keluarga, nilai moral yang ditanamkan saat perkembangannya, sampai pada saat individu tersebut dihadapkan untuk menentukan keputusan.
Nilai kebenaran dan kesadaran individu seyogyanya berkembang ,sehingga meningkat kan dari individu tersebut untuk memacu dirinya dalam perkembangan terhadap lingkungan.
Saat saya melihat pola pendidikan anak , konsep orang tua dalam menanamkan "Salah" maupun "Benar" tidak selalu harus dilakukan dengan konsep hukuman baik fisik maupun pe'label'-an anak. Tujuan dari pendidikan ini adalah pemahaman anak sejak dini bahwa tindakan maupun hal yang ada adalah Salah. Setelah pemahaman ini, bukan merupakan akhir dari proses orang tua. Orang tua sebagai mentor juga membimbing si calon individu dewasa ini untuk mengambil keputusan sehubungan dari kesadaran yang timbul. Disini peran orang tua sebagai instruktur yang memberikan instruksi dan pola pikir.
-Just Review , original from my heart -
-Ch-
Kamis, 19 Juni 2008
hari ini lembur lagi
Banyak banyak yang bisa saya pelajari dari sini, semakin hari saya makin menyadari bahwa saya bukan apa2..Ya..semuanya harus saya serahkan pada Nya, disamping saya sudah berjuang dengan keras. Yes .. thanks God udah kasih saya suau lingkungan yang nyaman untuk saya berjuang dan belajar.
Memang orang rumah semua kawatir dengan keadaan saya, semua gak percaya "anak kecil ini"
(hehehe) emang bisa ya , belajar untuk mandiri..hehehe
Semua kan ada tahapannya....Emang tiap tahap kita diproses lebih lagi..
Dan skarang yang menurutku proses terberat tuhhh..ya sekarang ini..
Dimana saya dituntut untuk memberikkan yang terbaik dan untuk selalu optimal semangatnya..
Wah wah..minta kekuatan ya....
Minta dukungan dan Doa..
Rabu, 18 Juni 2008
Selagi menikmati sukiyaki
Bandung...gak sempat saya kangen akan dirimu..
Yang aku sekarang rindukkan adalah bantal guling di kostan.....
Wah belum sempet pulang Bandung ni..
Nonton TV pun belum sempet 1 bulan ni...
Apa nanti saya jadi kurang beradab dengan dunia luar ya.
Apa kabar Bandung....
Minggu, 11 Mei 2008
Kalau Aku
Frank masuk ke kamar istrinya suatu hari.
"Kalo aku jelek, apa kamu
masih cinta?" tanyanya.
"Sayang, aku akan selalu cinta sama kamu,"
jawabnya santai sambil
mewarnai kukunya.
"Gimana kalo aku cacat?" tanyanya gugup.
"Ngga usah kuatir, Say,
aku akan selalu cinta sama kamu," jawabnya.
"Kalo gitu, gimana kalo aku dipecat,
apa kamu masih cinta sama aku?"
Si istri melihat ke muka suaminya yang kuatir.
"Frank, aku akan selalu
cinta kamu, tapi ... yang pasti,
aku akan benar-benar merindukanmu."
Saudara Hewan
Sepasang suami istri sedang berkendara melintasi jalanan desa
sepanjang beberapa mil. Sepanjang perjalanan, mereka saling
mendiamkan. Sebelumnya, mereka berdebat dan ngga ada yang mau
mengalah. Saat melewati kumpulan keledai, kambing, dan babi, si suami
dengan nada mengejek bertanya, "Saudaramu ya ...?"
"Yap," jawab istrinya, "saudara ipar."
Tanda tanda Cinta
Dua orang sahabat sedang ngomongin tanda-tanda cinta.
"Kelihatannya aku pernah jatuh cinta sebanyak tiga kali," kata salah
satunya.
"Kok bisa?" tanya temannya.
"Lima tahun lalu, aku benar-benar sayang sama cewek yang nggak mau
berurusan denganku."
"Apa itu cinta?"
"Bukan," jawabnya. "Itu obsesi. Lalu dua tahun lalu, aku bener-bener
sayang sama seorang cewek seksi yang nggak ngerti aku."
"Apa itu cinta?"
"Bukan," jawabnya. "Itu nafsu. Dan tahun lalu, aku ketemu cewek di
kapal menuju Karibia. Doi cerdas, pinter, dan ramah. Dan setiap aku
buntutin doi di atas kapal, perutku mual."
"Apa itu cinta?"
"Bukan," jawabnya. "Itu mabuk laut."
Dalih kasian atau infestasi untuk kemiskinan ya…

Yap sering kita jumpain la kalo soal yang kayak gini..lagee angkot, motor, mobil, sekalipun jalan kaki. A kasian a… Teh kasian teh ..hmm bukan masalah kasian kasian ni.. Semakin kita kasih unag apakah itu seratus rupiah, seribu rupiah (yang umum dikasih)mungkin kita gak perduli dengan jumlah nominal yang kita keluarkan, tapi kita coba bayangkan salam satu lampu merah pada jam sibuk, tiap 5 menit sekali dan berapa mobil yang sudah dia “jajakan” hmm dalam satu hari berakumulasi akumulasi dengan sangat menggiurkan.
Tidak mengenal umur
Makin kecil anak yang “dioperasikan” atau makin tua orang jompo yang “beroperasi” dan bahkan makin menyeramkan kecatatan yang “dijajakan”, senakin membuat orang yang melihat berbelaskasih, semakin menaikkan omset per hari…
Saya pribadi pernah melihat suatu kejadian yang mengerikan. Tepatnya di perempatan riau – laswi – stadion persib seoarang ibu (atau pun penyewa anak , ntahlah saya pun tidak tahu) memukul seorang pengemis cilik yang sedang bermain , si “ibu” ini menyuruh agar dia” beroperasi “lagi. Dengan makian dan pukulan telak yang membuat si anak ini menangis histeris di tengah jalan. Dan karena hamper tiap hari saya melewati jalur tsb, tiap saya analias dari hari ke harinya kok semakin bertambah, apa jalur ini yang merupakan jalur padat dan sering di lewati mobil luar kota, menjadikan suatu daerah operasi dengan target market yang bagus. Dan mereka membuat seperti tenda darurat untuk “berkembang biak” disana karena semakin banyak anak balita 1thn sampai 6thn yang beroperasi.
APA KATA DUNIA????? Mengutip dari film Naga Bonar jadi 2. Tapi sebelum dunia mengomentarinya, seorang sahabat dari Menado sudah berkomentar tentang ini..
Apa komentar kalian??? Dan solusi nya seperti apa yang dapat dilakukan?